Laskar89 merupakan organisasi radikal di Indonesia yang menuai kontroversi dan perdebatan mengenai aktivitas dan keyakinannya. Didirikan pada tahun 1989, kelompok ini dikaitkan dengan kekerasan, ekstremisme, dan radikalisme.
Laskar89 dibentuk dengan tujuan untuk mengedepankan prinsip-prinsip Islam dan membela kepentingan umat Islam di Indonesia. Kelompok ini menjadi terkenal karena keterlibatannya dalam beberapa konflik kekerasan, termasuk kekerasan sektarian di Ambon pada akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an, di mana mereka dituduh menghasut dan melakukan tindakan kekerasan terhadap umat Kristen.
Kelompok ini juga dikaitkan dengan kegiatan teroris, dan beberapa anggotanya terlibat dalam pemboman dan serangan lainnya di Indonesia. Laskar89 dituduh mempromosikan ideologi ekstremis dan merekrut anggota untuk melakukan tindakan kekerasan atas nama Islam.
Terlepas dari tuduhan tersebut, Laskar89 terus beroperasi di Indonesia, dan beberapa pendukungnya memandang kelompok tersebut sebagai pembela sah hak dan kepentingan umat Islam. Organisasi ini juga terlibat dalam upaya kemanusiaan, memberikan bantuan dan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana alam dan konflik.
Namun para kritikus berpendapat bahwa tindakan dan keyakinan Laskar89 berbahaya dan memecah belah, dan bahwa aktivitas kelompok tersebut berpotensi memicu kekerasan dan konflik lebih lanjut di Indonesia. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk memantau dan mengatur organisasi tersebut, namun Laskar89 tetap beroperasi dan merekrut anggota.
Warisan Laskar89 masih kontroversial, dengan adanya perselisihan antara pendukung dan kritikus mengenai peran kelompok ini dalam masyarakat Indonesia. Meski ada yang memandang organisasi ini sebagai kekuatan yang diperlukan untuk membela hak-hak umat Islam, ada pula yang melihatnya sebagai kelompok berbahaya dan ekstremis yang menimbulkan ancaman terhadap stabilitas dan keamanan negara.
Ketika Indonesia bergulat dengan isu-isu ekstremisme dan radikalisme agama, kehadiran organisasi seperti Laskar89 menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana mengatasi dan melawan kekuatan-kekuatan tersebut. Pemerintah, masyarakat sipil, dan pemimpin agama mempunyai peran dalam mendorong toleransi, pengertian, dan perdamaian dalam masyarakat yang beragam dan multi-agama seperti Indonesia. Penting untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi dan ekstremisme, dan berupaya membangun masyarakat yang inklusif, damai, dan tangguh dalam menghadapi ideologi yang memecah belah dan tindakan kekerasan.